Niteni Sebelum Ngimpi
Ambisi menjadi bangsa maju pelan-pelan merampas kepekaan kita untuk membaca realitas.
Foto Ki Hadjar Dewantara. Sumber: voi.id
Sialnya, era ini memuja kecepatan dan hasil instan di atas segalanya, sementara kedalaman berpikir makin ditinggalkan. Imbasnya, lahirlah habitus baru, di mana cara kita memaknai hidup perlahan berubah jadi lebih pragmatis, konsumtif, dan serba dangkal.
Pemikiran Pierre Bourdieu tentang habitus menawarkan lensa kritis untuk melihat fenomena ini. Sadar atau tidak, kita telah terperangkap dalam struktur sosial yang terus-menerus menginternalisasi pola pikir instan, konsumsi informasi yang transaksional, dan budaya visual yang berlalu serba cepat.
Gejala ini menjadi sangat ironis ketika kita membenturkannya dengan cita-cita kolektif. Belakangan, obrolan perihal transformasi bangsa hingga ambisi untuk menjadi “Indonesia Emas 2045” terus digembar-gemborkan. Punya cita-cita tinggi seperti ini jelas tidak ada salahnya. Tapi yang penting untuk dipikirkan justru apa yang sering kita lakukan sebelum sampai ke sana, apakah kita sudah cukup lama memperhatikan?
Sebab boleh jadi, persoalan kita bukan kekurangan pengetahuan. Bukan pula kekurangan informasi. Kita justru hidup di tengah banjir informasi. Yang kian pudar justru kebiasaan mengambil jeda. Kita tak lagi telaten mengamati dan mengurai makna dari rentetan peristiwa di depan mata. Ki Hadjar Dewantara merangkum kemampuan yang hilang ini dalam satu kata sederhana: niteni.
Sebelum Inovasi, Ada Niteni
Lama sebelum diksi inovasi diobral sebagai solusi untuk beragam permasalahan, Ki Hadjar Dewantara sebetulnya sudah menitipkan sebuah fondasi berpikir yang tak lekang oleh zaman, yakni konsep 3N. Falsafah niteni, nirokke, dan nambahi ini merangkum sebuah siklus belajar yang sangat membumi, mulai dari kesabaran mengamati, menjadikannya rujukan yang dikuasai, hingga bermuara pada upaya menyuntikkan nilai tambah.
Niteni bukan sekadar melihat. Jika melihat hanyalah urusan menangkap objek lewat mata, laku niteni menuntut kehadiran utuh dari batin dan kesadaran kita. Proses ini memaksa kita untuk mencermati pola, mengenali sebab dan akibat, membaca keadaan, dan memahami sesuatu sebelum tergesa-gesa mengambil keputusan atau kesimpulan.
Celakanya, terbawa pusaran zaman pelan-pelan bisa membunuh kepekaan tersebut. Sesuatu baru muncul, kita ingin segera tahu. Ada peristiwa, kita ingin segera berkomentar. Ada informasi, kita ingin segera membagikannya. Tidak banyak ruang yang tersisa untuk bertanya apakah kita sudah benar-benar memahaminya.
Kita membaca judul lalu merasa tahu isinya. Melihat keberhasilan sebuah negara, langsung tertarik meniru hasil akhirnya tanpa terlalu ingin tahu bagaimana proses panjang di belakangnya. Begitu pula saat merespons sebuah lompatan teknologi. Alih-alih meluangkan waktu untuk membedah akar masalahnya, kita justru lebih sibuk memikirkan cara agar bisa tampil dan terlihat relevan.
Kita melihat, tetapi belum tentu niteni.
Bangsa Maju Juga Pernah Meniru
Ada anggapan bahwa meniru adalah kebalikan dari kreativitas. Kita sering kali mendewakan orisinalitas, meyakini bahwa hal hebat harus mutlak lahir dari kepala sendiri sejak awal. Padahal, jika kita telusuri alur sejarah, tak satu pun karya besar yang jatuh begitu saja dari langit; ia hampir selalu berupa perbaikan bertahap dari ide-ide yang mendahuluinya.
Tengok saja kiprah modernisasi Jepang. Alih-alih sebatas menyalin mentah-mentah cetak biru peradaban Barat, mereka meramu pengetahuan asing itu agar membumi dalam konteks lokalnya. Fase ini menuntut kerja keras untuk memahami intinya, menerjemahkan realitas, lalu menjahitnya kembali menjadi sesuatu yang baru. Dalam kajian JICA, proses semacam ini disebut sebagai translative adaptation.
Di sini letak persoalannya. Mempersoalkan gengsi apakah sebuah bangsa meniru atau tidak sebenarnya kurang relevan, toh saling menyerap ilmu adalah fitrah setiap peradaban. Hal yang jauh lebih mendesak untuk dikritisi adalah: saat kita mengadopsi sesuatu, sudahkah kita membedah dan mengurai alasan di balik keberhasilan formula tersebut?
Meniru tanpa mengamati hanya menghasilkan salinan yang belum tentu sesuai dengan konteks lokal. Namun, saat imitasi itu lahir dari kedalaman pemahaman, ia tumbuh menjadi fondasi belajar yang sesungguhnya. Lewat celah inilah, peluang untuk meracik karya yang benar-benar selaras dengan persoalan kita perlahan mulai terbuka.
Dari Niteni ke Nirokke
Kembali pada kerangka 3N, niteni itu bukan tujuan akhir. Ia menjadi pintu menuju nirokke. Lewat observasi yang mendalam, kita mulai menyerap hal-hal yang sudah terbukti berhasil. Tentu prosesnya tidak instan; ada fase jatuh-bangun, keliru, memoles ulang, hingga akhirnya kita menemukan ritme yang pas.
Melakukan replikasi pada titik ini sama sekali bukan tanda matinya daya cipta. Sebaliknya, saat kita mengadopsi sesuatu dengan penuh kesadaran, kita sebetulnya sedang membedah anatomi cara kerjanya. Kita tak lagi sekadar terpukau pada hasil akhir yang cemerlang, melainkan perlahan meraba alasan fundamental mengapa hal tersebut bisa terwujud.
Ketika fondasi pemahaman ini sudah mengakar, barulah kita layak melangkah ke fase nambahi. Di sinilah ruang kita untuk memodifikasi, menyuntikkan nilai baru, hingga menyingkap kemungkinan baru yang tadinya luput dari perhatian.
Pada akhirnya, inovasi jarang sekali muncul secara ajaib dari imajinasi kosong. Kebaruan justru kerap bermula dari laku yang sangat mendasar: mereka yang rela menghabiskan waktu untuk mencermati apa yang sudah ada, membedah di mana letak kekurangannya, lalu secara bertahap menyempurnakannya.
Niteni. Nirokke. Nambahi.
Urutannya mungkin sederhana. Tetapi kita sering kali ingin melewati dua langkah pertama dan langsung berbicara tentang langkah terakhir.
Kita Terlalu Cepat Ingin Nambahi
Kita ingin nambahi sebelum selesai niteni. Kita ingin berinovasi sebelum benar-benar memahami masalah. Kita ingin menjadi pelopor sebelum menguasai apa yang sudah pernah dikerjakan orang lain.
Kita ingin menyusul negara maju, tetapi tidak selalu cukup sabar untuk melihat bagaimana mereka membangun fondasinya. Kita menginginkan terobosan besar, tetapi sering kali tidak betah mengurus hal-hal kecil yang menjadi prasyaratnya. Kita ingin hasil yang besar, tetapi kurang akrab dengan proses panjang yang biasanya menyertainya.
Di titik ini, niteni menjadi lebih dari sekadar cara belajar. Ia pada hakikatnya menjelma menjadi fondasi nalar yang sehat. Tanpa pijakan ini, kacamata kita dalam menakar realitas akan buram, dan kita rentan salah mendiagnosis penyakit. Kalau akar masalahnya saja sudah meleset, sekeras apa pun kita memeras keringat, kita sejatinya cuma berputar-putar menggarap ilusi, bukan persoalan yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, peradaban dibangun oleh kualitas pikiran. Setiap solusi dibatasi oleh cara kita memahami persoalan.
Itulah mengapa kepekaan untuk membaca realitas tidak bisa dipandang sebelah mata. Kejernihan kita dalam melihat persoalan sangat menentukan seberapa akurat langkah yang akan kita ambil setelahnya.
Tahu Tidak Sama dengan Mengerti
Banjir informasi hari ini memang semakin tak terbendung. Lewat layar di genggaman, peristiwa di belahan bumi lain pun bisa mampir seketika. Sayangnya, timbunan data yang melimpah ruah itu sama sekali tidak berbanding lurus dengan kedalaman pemahaman kita.
Sangat mudah bagi kita untuk menunjuk negara mana yang hari ini paling maju, tanpa mau repot-repot menelusuri rute panjang dan berliku yang mengantarkan mereka ke puncak. Begitu pula dengan tren teknologi mutakhir; kita mungkin hafal deretan inovasinya, tapi luput menangkap kegelisahan mendasar yang memicu penciptaan alat tersebut. Pun dalam menakar kebijakan publik, kita acapkali sekadar merayakan klaim suksesnya tanpa mau mengulik babak belur kegagalan di balik layar.
Di situlah niteni menjadi penting. Ia hadir sebagai rem batin agar kita tidak lekas berpuas diri hanya karena merasa sudah meraup informasi. Laku ini menuntut kesabaran kita untuk menahan laju, rela menghabiskan waktu lebih lama untuk membaca situasi, menguntai benang merah, dan meresapi konteks hingga kita menemukan pemahaman yang lebih jernih.
Tahu tidak selalu berarti mengerti. Melihat tidak selalu berarti niteni.
Tanpa niteni, nirokke mudah berubah menjadi imitasi kosong. Sementara nambahi bisa berubah menjadi keinginan untuk terlihat inovatif tanpa benar-benar menyelesaikan persoalan.
Masalah Kita Mungkin Bukan Kekurangan Mimpi
Barangkali masalah kita bukan kekurangan mimpi. Kita justru punya banyak sekali mimpi tentang masa depan. Ambisi kolektif kita untuk berdiri sejajar dengan negara-negara maju nyatanya begitu meluap-luap. Tentu saja, merawat cita-cita setinggi ini sah-sah saja.
Persoalannya, apakah impian tersebut punya pijakan yang kuat pada realitas? Ironis rasanya jika kita sibuk mereka-reka garis akhir, sementara tanah tempat kita berpijak hari ini saja belum kita kenali dengan baik.
Oleh karena itu, tugas terbesar kita saat ini barangkali bukanlah berlomba menciptakan kebaruan. Ada laku lain yang jauh lebih mendasar namun kerap kita sepelekan: melatih kembali kepekaan untuk menatap sekeliling.
Niteni.
Memperhatikan kunci di balik keberhasilan sesuatu, sembari memahami apa yang membuatnya gagal. Berbekal kepekaan itu, kita belajar menyerap inovasi pihak lain secara utuh, mencerna cara kerjanya, lalu meramunya kembali agar selaras dengan realitas kita sendiri tanpa kehilangan arah. Hanya dari fase pematangan inilah, kita berhak menyodorkan nilai tambah. Begitulah semestinya sebuah gagasan mekar, bukan dari keinginan dangkal untuk sekadar pamer hal baru atau memproduksi warisan semu, melainkan lewat laku sabar dalam menyelami apa yang sebenarnya sudah membentang di depan mata.
Maka, menginjak usia kemerdekaan yang ke-81 tahun ini, barangkali yang paling kita butuhkan bukanlah euforia tentang seberapa cepat kita mampu berlari, melainkan kesediaan untuk menengok kembali cara kita berjalan. Perjalanan bangsa ini masih teramat panjang. Kematangan kita kelak tidak akan diukur dari deretan inovasi instan yang rutin kita pamerkan, melainkan dari seberapa jernih kita mengenali tanah tempat kita berpijak.
Niteni. Nirokke. Nambahi.
Ketiga prinsip ini tak pernah menjanjikan rute instan menuju kemajuan. Ia hadir sebagai kurikulum dasar agar kita mau tekun belajar, sebelum pongah merasa pantas mencipta.
Kelak, setelah kita benar-benar tuntas mencermati dan mematangkan apa yang kita adaptasi, barulah kita berhak berbicara soal lompatan besar.
Karena pada akhirnya, mata yang rabun tak akan pernah tahu kepingan berharga mana yang layak untuk dipungut. Tanpa ketajaman saat meniru, mustahil kita mengerti apa yang kurang dan patut disempurnakan.
Dan jika kedua syarat mutlak itu luput dari genggaman,
Ojo ngimpi.
Catatan: tulisan ini menggunakan 3N sebagai kerangka refleksi mengenai cara belajar, meniru, dan berinovasi. Ia tidak dimaksudkan sebagai klaim bahwa seluruh persoalan kemajuan bangsa dapat dijelaskan hanya melalui satu konsep.
Bahan Bacaan & Referensi:
- Bourdieu, P. (1990). The logic of practice. Stanford University Press.
- Ohno, I. (2024). Introducing Foreign Models for Development: A Perspective from Translative Adaptation. In: Ohno, I., Jin, K., Amatsu, K., Mori, J. (eds) Introducing Foreign Models for Development. Emerging-Economy State and International Policy Studies. Springer, Singapore.
- Siswa, M, L, P, T. (2011). Karya Ki Hadjar Dewantara: bagian pertama pendidikan . Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.
Reviewed by Eka B. Panuntun
on
Sabtu, September 12, 2026
Rating: 5

