Menjadi Kolibri di Era Polikrisis
Refleksi tentang pembangunan, hutan, dan harapan di tengah krisis ekologis.

Mengapa isu lingkungan masih terasa begitu jauh dari masyarakat yang justru paling terdampak olehnya?
Pertanyaan itu terus mengusik saya setelah hampir satu jam berbincang di Podcast Oase. Selama ini saya terbiasa menghasilkan diskursus melalui tulisan, rancangan program, maupun ruang-ruang diskusi. Namun, duduk di balik mikrofon untuk merekam siniar pertama menghadirkan pengalaman yang sangat berbeda. Alih-alih sekadar berbagi cerita, percakapan itu justru memaksa saya meninjau kembali bagaimana kita berbicara tentang hutan, pembangunan, dan masa depan ekologi.
Beberapa waktu lalu, saya mendapat kehormatan diundang oleh Om Iwan dalam Podcast Oase. Sebagai seseorang yang sehari-hari lebih banyak berkutat di hutan, merancang manajemen pengetahuan, serta membangun komunikasi publik bersama teman-teman di Yayasan Relung Indonesia, berbicara di depan kamera merupakan pengalaman baru yang sekaligus menantang dan membebaskan.
Percakapan kami bergerak ke banyak arah. Kami mengenang masa kecil saya di Desa Kaliangkrik, ketika mengumpulkan bunga pinus menjadi cara sederhana untuk memperoleh uang saku demi bisa bermain PlayStation. Kami juga berbincang tentang perjalanan yang membawa saya “kecemplung”, baik secara harfiah maupun filosofis, ke dunia kehutanan. Namun, dari semua cerita itu, ada satu benang merah yang terus muncul: kecerdasan ekologis dan bagaimana isu perubahan iklim sering kali terjebak dalam narasi yang terlalu elitis.
Menggugat Elitisme Isu Karbon
Selama ini, pembicaraan mengenai perubahan iklim, perdagangan karbon, hingga deforestasi terlalu sering berputar di ruang-ruang yang dipenuhi istilah teknis, singkatan, dan laporan ilmiah. Akibatnya, isu yang seharusnya menjadi kepentingan bersama justru terasa eksklusif. Ia terdengar jauh dari kehidupan masyarakat di tingkat tapak, bahkan dari generasi muda yang kelak akan mewarisi konsekuensi terbesar krisis ekologis pada 2050 dan seterusnya.
Di situlah letak ironinya. Bagaimana kita bisa berharap lahir aksi kolektif jika bahasa yang kita gunakan justru menciptakan jarak dengan mereka yang ingin kita ajak bergerak?
Saya banyak dipengaruhi oleh pemikiran Daniel Goleman melalui bukunya Ecological Intelligence. Jika Emotional Intelligence mengajak kita memperluas empati terhadap sesama manusia, maka Ecological Intelligence mengingatkan bahwa empati itu semestinya juga mencakup seluruh sistem kehidupan. Kita bukan makhluk yang berdiri di luar alam, melainkan bagian yang tak terpisahkan darinya. Cara kita mengonsumsi, membangun, dan mengambil keputusan selalu memiliki konsekuensi ekologis, meskipun sering kali tidak kasatmata.
Kegelisahan itulah yang kemudian melahirkan inisiatif Rumah Belajar Karbon. Di Petak 5 Hutan Pendidikan Wanagama seluas 85 hektare, kami berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang menghubungkan ilmu kehutanan dengan kehidupan sehari-hari. Peserta tidak hanya mempelajari bagaimana pohon diukur atau bagaimana cadangan karbon dihitung melalui pendekatan ilmiah, tetapi juga diajak memahami mengapa semua proses itu penting bagi keberlangsungan hidup kita.
Saya ingin siapa pun dapat ikut belajar, mahasiswa dari disiplin ilmu apa pun, pelajar, maupun masyarakat umum. Saya ingin mereka memeluk pohon, menyentuh tanah, lalu menyadari bahwa setiap napas yang kita hirup hari ini merupakan hasil kerja sunyi ekosistem yang selama ini sering kita anggap biasa. Saya masih ingat salah seorang peserta yang belum pernah masuk hutan sama sekali. Namun setelah mengikuti seluruh proses, ia berkata bahwa baru kali itu ia menyadari kalau menyusuri hutan itu menyenangkan. Momen-momen kecil seperti itulah yang membuat saya percaya bahwa literasi ekologi tidak tumbuh dari ceramah, melainkan dari pengalaman langsung.
Bagi saya, pengetahuan tentang karbon hutan tidak boleh berhenti menjadi milik kalangan akademik atau praktisi semata. Ia harus menjadi pengetahuan publik. Sebab ketika masyarakat memahami hubungan antara pohon, karbon, dan kehidupan mereka sendiri, kepedulian terhadap lingkungan tidak lagi lahir karena kewajiban, melainkan karena kesadaran.
Pembangunan atau Sekadar Bangunan?
Di tengah perbincangan kami di Podcast Oase, ada satu refleksi yang terus mengendap di kepala saya. Barangkali terdengar sederhana, tetapi semakin lama saya pikirkan, semakin besar pula implikasinya.
Apa sebenarnya kata dasar dari “pembangunan”? Apakah “bangun”, atau justru “bangunan”?
Pertanyaan ini bukan sekadar permainan linguistik. Cara kita memilih kata sering kali membentuk cara kita memandang dunia.
Hari ini, pembangunan kerap direduksi menjadi sesuatu yang kasatmata: jalan yang semakin lebar, gedung yang semakin tinggi, bendungan yang semakin megah, atau kawasan baru yang terus bertambah. Ukuran keberhasilannya sering berhenti pada apa yang berdiri, bukan pada apa yang tumbuh. Barangkali selama ini kita terlalu sibuk menghitung jumlah bangunan, hingga lupa bertanya apakah kita benar-benar sedang membangun.
Padahal, membangun seharusnya dimaknai sebagai sebuah proses, bukan sekadar menghasilkan produk fisik. Ia adalah proses menciptakan nilai bagi manusia sekaligus alam. Ketika pembangunan hanya dipahami sebagai upaya menghadirkan bangunan, dimensi ekologis dan sosial perlahan akan tersisih. Hutan berubah menjadi “lahan kosong”, sungai dipandang sekadar saluran air, sementara masyarakat lokal kerap diposisikan sebagai penghambat, bukan bagian dari solusi.
Yang lebih mengkhawatirkan, kita sering menyaksikan proyek yang melompati tahapan-tahapan penting. Kajian kelayakan menjadi formalitas, partisipasi publik berlangsung seadanya, dan pertimbangan ekologis dianggap sebagai hambatan yang harus segera disingkirkan. Tidak lama kemudian, alat berat datang, pohon-pohon tumbang, dan beton mulai berdiri. Semua itu disebut pembangunan.
Padahal, apakah setiap bangunan selalu berarti pembangunan?
Bagi saya, jawabannya tidak selalu.
Sebuah proyek baru layak disebut pembangunan apabila kehadirannya memperkaya kualitas hidup, memperkuat ketahanan sosial, sekaligus menjaga daya dukung ekosistem yang menopangnya. Infrastruktur tentu penting. Jalan, sekolah, rumah sakit, bendungan, hingga jaringan energi adalah fondasi kemajuan sebuah bangsa. Namun, infrastruktur hanyalah sarana, bukan tujuan akhir. Tujuan pembangunan seharusnya adalah menghadirkan kehidupan yang lebih baik tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk menikmati kualitas hidup yang sama.
Di sinilah saya merasa paradigma kita perlu bergeser.
Selama beberapa dekade terakhir, konsep sustainability atau keberlanjutan telah menjadi pijakan penting dalam berbagai kebijakan pembangunan. Ia mengajarkan kita untuk mengurangi dampak negatif, menggunakan sumber daya secara lebih bijaksana, dan menjaga agar kerusakan tidak semakin besar. Itu adalah langkah yang sangat penting.
Namun, tantangan abad ini menuntut sesuatu yang lebih berani.
Kita tidak lagi hidup di dunia yang sekadar membutuhkan kerusakan yang lebih kecil. Kita hidup di tengah krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, degradasi tanah, dan menurunnya kualitas air. Dalam situasi seperti ini, sekadar “tidak memperburuk keadaan” tidak lagi cukup.
Selama bertahun-tahun, keberlanjutan mengajarkan kita untuk mengurangi jejak kerusakan. Pendekatan itu berhasil mengubah banyak cara pandang. Namun ketika sebagian ekosistem telah kehilangan kemampuan alaminya untuk pulih, sekadar mengurangi dampak tidak lagi memadai. Kita membutuhkan paradigma yang tidak hanya menjaga apa yang tersisa, tetapi juga mengembalikan apa yang telah hilang.
Karena itu, kita perlu mulai berbicara tentang pembangunan regeneratif (regenerative development). Sebuah pendekatan yang tidak berhenti pada upaya menjaga, melainkan secara aktif memulihkan, memperkaya, dan meregenerasi ekosistem yang telah terdegradasi. Ukuran keberhasilannya bukan lagi seberapa kecil kerusakan yang ditimbulkan, melainkan seberapa besar kehidupan yang berhasil dipulihkan.
Mungkin inilah makna membangun yang sesungguhnya. Bukan sekadar meninggalkan bangunan yang kokoh, melainkan mewariskan bumi yang lebih sehat kepada mereka yang datang setelah kita.
Filosofi Burung Kolibri di Tengah Polikrisis
Kita hidup pada masa yang oleh banyak ilmuwan disebut sebagai era polikrisis, ketika berbagai krisis hadir secara bersamaan dan saling memperkuat satu sama lain. Krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, degradasi lingkungan, ketimpangan ekonomi, hingga krisis informasi tidak lagi berdiri sendiri. Semuanya saling terhubung dan memengaruhi cara kita hidup hari ini.
Di tengah kompleksitas itu, rasa putus asa menjadi sesuatu yang mudah tumbuh. Ketika setiap hari kita membaca berita tentang hutan yang hilang, banjir yang semakin sering, atau suhu bumi yang terus meningkat, pertanyaan yang muncul hampir selalu sama.
“Apa arti satu tindakan kecil saya di tengah persoalan sebesar ini?”
Menjelang akhir perbincangan di Podcast Oase, saya teringat pada sebuah kisah yang selalu menguatkan saya. Kisah itu berasal dari Wangari Maathai, peraih Nobel Perdamaian sekaligus pendiri Green Belt Movement di Kenya.
Diceritakan, ketika hutan terbakar hebat, hewan-hewan besar hanya dapat berdiri di kejauhan menyaksikan kobaran api. Gajah, badak, dan singa menganggap tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Di tengah keputusasaan itu, seekor burung kolibri kecil justru terbang bolak-balik menuju sungai, membawa setetes air di paruhnya, lalu menjatuhkannya ke atas api.
Melihat itu, gajah mengejeknya.
“Apa yang kamu lakukan? Setetes airmu tidak akan pernah mampu memadamkan kebakaran sebesar ini.”
Kolibri itu berhenti sejenak, lalu menjawab dengan tenang,
“Saya hanya melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan.”
Jawaban sederhana itu selalu terasa relevan bagi saya.
Barangkali memang kita tidak akan mampu menyelesaikan krisis iklim seorang diri. Kita mungkin tidak akan menghentikan deforestasi hanya dengan menanam satu pohon. Kita juga tidak akan mengubah cara berpikir seluruh dunia hanya dengan satu tulisan atau satu percakapan.
Namun, bukankah setiap perubahan besar selalu dimulai dari seseorang yang memutuskan untuk tetap bergerak?
Saya percaya bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari satu langkah yang spektakuler, melainkan dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Membangun ruang literasi ekologi, memperbaiki narasi komunikasi publik, mendampingi masyarakat, hingga merekam suara-suara alam untuk dipadukan ke dalam karya musik yang sedang saya rintis, semuanya adalah kepakan sayap kolibri bagi saya.
Mungkin semua itu tampak sederhana. Bahkan, mungkin tidak akan pernah menjadi berita utama. Namun saya percaya, perubahan tidak selalu bergerak dengan suara yang keras. Sering kali ia tumbuh perlahan, melalui orang-orang yang memilih tetap bekerja, tetap belajar, dan tetap peduli, bahkan ketika hasilnya belum segera terlihat.
Barangkali itulah makna menjadi kolibri di era polikrisis. Bukan merasa diri sebagai penyelamat dunia, melainkan menolak menjadi penonton ketika dunia sedang membutuhkan lebih banyak orang yang mau bergerak.
Jika semakin banyak orang menemukan “paruh kolibri”-nya masing-masing, maka yang terkumpul bukan lagi setetes air, melainkan sebuah arus yang mampu mengubah arah.
Tulisan ini lahir dari kegembiraan saya setelah berbincang di Podcast Oase Episode 25. Jika kawan-kawan ingin mendengarkan percakapan lengkap yang melatarbelakangi refleksi ini, saya menyematkan tautannya di bawah.
Barangkali dunia memang tidak sedang menunggu seorang pahlawan. Dunia hanya membutuhkan lebih banyak kolibri.
Podcast Oase #25 — MERUSAK ATAU MEMBANGUN? | Eka B. Panuntun
Baca juga :
Reviewed by Eka B. Panuntun
on
Rabu, Juli 22, 2026
Rating: 5




