Bangsa yang Terlelap
Sebuah Fiksi Spekulatif tentang Tirani Kenyamanan di Ujung Jari

Di Kertajaya, matahari tak lagi memegang peran penting.
Bukan karena hukum alam telah berubah, melainkan karena manusia telah menemukan cara yang lebih efisien untuk membunuh malam. Cahaya di sini tidak datang dari langit, melainkan dari jutaan Loka-Sutra, layar hologram tipis yang melayang nanar tepat dua sentimeter di depan retina setiap penduduknya.
Abhinaya, seorang Veda-Coder tingkat menengah, duduk terkulai di dalam kapsul huniannya. Tubuhnya diam, tapi matanya bergerak liar. Pupilnya bergetar, melakukan gerakan micro-saccades ekstrem mengikuti aliran data yang melesat di SmartLens-nya.
Cuplikan joget bidadari digital (3 detik). Geser.
Resep nutrisi sintetik instan (0,5 detik). Lewatkan.
Sketsa ringan dengan plot twist (Tahan. Analisis tawa, 2 detik).
Iklan penenang saraf biometrik. Klik.
Zzzzt.
Dopamin dilepaskan secara presisi ke sistem limbiknya. Bukan kebahagiaan sejati, melainkan sebuah siklus “kepuasan statis”. Di puncak peradaban yang mereka sebut Masa Keemasan ini, tak ada manusia yang kesepian. Bukan karena mereka saling terhubung, melainkan karena mereka telah menyerahkan kedaulatan batin kepada Sang Mandala, algoritma maha tahu yang mengatur setiap tarikan napas kognitif mereka. Abhinaya tidak perlu berpikir; ia cukup menerima, dan menikmatinya.
Grahana — Ketika Cahaya Padam
Petaka itu tidak datang dengan ledakan, melainkan dengan ketiadaan.
Para teknokrat menyebutnya Grahana (gerhana data total). Saat itu, Abhinaya sedang menelan konten hiburan ke-seribunya hari itu. Tiba-tiba, pendar biru di matanya berkedip merah, lalu… hitam.
Keheningan yang ekstrem menghantamnya.
Bukan sekadar sunyi dari suara, tapi keheningan informasi. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, Abhinaya benar-benar merasa kebingungan, sendirian, tanpa bisikan, tanpa penuntun.
Secara biologis, otaknya menjerit. Korteks prefrontalnya yang terbiasa disuapi stimulasi setiap 8,25 detik kini mengalami guncangan neurologis yang hebat. Rasanya seperti paru-paru yang mendadak hampa udara. Ia mengap-mengap, mencari “oksigen” berupa notifikasi, warna, atau suara apa pun.
“Nawasena?” panggilnya. Suaranya parau, bahkan asing di telinganya sendiri.
Ia mencoba melakukan ping ke kekasihnya lewat pikiran, kebiasaan refleks yang kini sia-sia. Tidak ada sinyal. Tidak ada balasan instan. Tidak ada emoji hati yang meledak di sudut matanya.
Abhinaya merangkak keluar kapsul. Di lorong-lorong perak Kertajaya, ia melihat pemandangan neraka modern. Ribuan orang bersimpuh di lantai, gemetar hebat seperti pecandu yang sakaw. Mata mereka kosong, menatap nanar ke udara hampa di mana layar Loka-Sutra biasanya berada.
Mereka lupa cara berjalan tanpa bimbingan GPS. Mereka lupa cara merangkai kata tanpa autocomplete AI. Tanpa Sang Mandala, warga Kertajaya hanyalah cangkang-cangkang lunak yang kehilangan sistem operasinya.
Danadyaksa dan Hutan Kata
Di tengah kekacauan itu, sebuah tangan keriput mencengkeram lengan Abhinaya. Cengkeraman itu nyata, kasar, dan hangat, sensasi sentuhan fisik yang jarang dirasakan di era sentuhan layar hologram.
Seorang pria tua berdiri di sana. Matanya tajam, tidak tertutup selaput SmartLens. Tidak ada pendar cahaya di iris matanya, hanya kegelapan pupil yang menatap lurus menembus jiwa Abhinaya.
“Ikut aku, Nak. Sebelum Korps Ketertiban Mandala menyapumu sebagai anomali,” bisik orang tua itu. Suaranya serak, seperti gesekan kertas pasir.
Mereka turun ke lapisan tak-terindeks kota, melewati lorong-lorong ventilasi menuju Sektor Shunya, zona residu yang dilupakan algoritma. Di sana, di sebuah ruangan remang yang berbau apek dan berdebu, orang tua yang memperkenalkan dirinya sebagai Danadyaksa itu menyimpan “artefak” dunia dari masa lalu.
Bukan perangkat peretasan. Bukan virus neural. Melainkan tumpukan serat selulosa yang dijilid rapi.
“Ini artefak paling berbahaya yang pernah diciptakan manusia,” kata Danadyaksa sambil menyodorkan sebuah benda berat berbentuk persegi panjang ke tangan Abhinaya.
Abhinaya menerimanya dengan ragu. Benda itu… berat. Baunya campuran debu dan serat tua, aroma yang tidak lagi dikenali sistem penciumannya.
“Buku,” kata Danadyaksa. “Ia tidak memberimu dopamin instan. Ia tidak punya fitur search. Ia tidak akan membacakan dirinya untukmu. Ia menuntut perhatianmu secara utuh, jam demi jam, halaman demi halaman. Ia memaksamu membangun dunia di kepalamu sendiri, bukan sekadar penonton yang disuapi konten audiovisual.”
Abhinaya membuka sampulnya yang kaku. Judulnya tertulis dalam tinta hitam pekat, Anatomi Nalar.
Ia mencoba membaca.
Baru tiga baris, kepalanya berdenyut hebat.
Huruf-huruf itu diam. Mati. Mereka tidak melompat, tidak berubah warna, tidak mengeluarkan suara lucu. Abhinaya harus menyeret fokus matanya dari kiri ke kanan secara manual. Rasanya seperti dipaksa berlari di dalam lumpur pekat setelah terbiasa terbang.
Otaknya, yang telah terbiasa dengan pemrosesan paralel yang dangkal, menjerit menolak pemrosesan serial yang mendalam. Ia merasa mual. Ia merasa lelah kognitif yang luar biasa hanya dengan mencoba memahami satu paragraf tanpa interupsi iklan.
“Aku… aku tidak bisa,” rintih Abhinaya, menjatuhkan buku itu. Napasnya memburu. “Ini terlalu lambat. Terlalu sunyi. Sakit.”
Danadyaksa memungut buku itu dengan lembut, seolah memungut seorang bayi yang terlantar. Senyum pahit terukir di wajahnya.
“Respons yang normal,” katanya.
“Itulah rencananya, Abhinaya. Tirani modern tidak perlu lagi membakar buku seperti di masa lalu. Itu cara kuno. Mereka cukup memastikan otakmu tak lagi punya stamina mental untuk membacanya. Mereka memangkas kapasitas kognitif kita pelan-pelan, sampai kita tidak mampu lagi mencerna kalimat majemuk, apalagi mendeteksi kebohongan yang rumit dari sebuah sistem.”
Orang tua itu menatap Abhinaya dengan iba. “Kita telah menjadi bangsa yang secara sukarela mengamputasi nalar kita sendiri demi kenyamanan.”
Bayanaka dan Logika Penjara
tkk — tkk — ssshh… klik.
Pintu persembunyian di Shunya tidak meledak atau hancur. Pintu itu hanya… patuh. Mekanisme kuncinya terurai begitu saja saat kode otorisasi tingkat tinggi dipancarkan dari luar.
Perlahan Bayanaka melangkah masuk.
Ia adalah perwira tinggi dari Korps Ketertiban Mandala, namun penampilannya jauh dari kesan militer yang kasar. Wajahnya adalah definisi simetri yang mengganggu, hasil bedah estetika algoritmik yang terlalu sempurna untuk disebut manusiawi. Kulitnya berpendar halus, memantulkan cahaya redup ruangan itu.
“Danadyaksa,” sapa Bayanaka. Suaranya lembut, berirama stabil seperti detak metronom, namun membawa hawa dingin yang menusuk tulang. “Kau menyebarkan polusi kognitif lagi.”
“Aku hanya memberikan mereka pilihan, Bayanaka,” jawab sang tua, berdiri tegak meski lututnya gemetar.
Bayanaka tidak berdebat. Ia hanya menoleh perlahan ke arah Abhinaya, memindainya dari ujung kaki ke kepala seolah sedang membaca barcode produk cacat.
“Kau gemetar, Nak,” kata Bayanaka. Bukan sebagai ejekan, melainkan sebuah observasi klinis yang datar. “Detak jantungmu 140 bpm. Kortisolmu melonjak. Itu reaksi wajar. Otakmu sedang mengalami trauma karena dipaksa bekerja tanpa pelumas dopamin.”
Abhinaya menggenggam buku di tangannya lebih erat, kuku-kuku jarinya memutih. “Kami… kami seperti kehilangan sesuatu yang penting,” suaranya parau.
Bayanaka tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai mata.
“Kehilangan?” Ia menggeleng perlahan, seolah sedang berbicara pada anak kecil yang tidak paham matematika dasar. “Kami tidak menghilangkan apa pun, Abhinaya. Kami hanya menghentikan pemborosan.”
Ia melangkah mendekat, langkah kakinya tidak bersuara.
“Coba ingat sejarah. Dahulu, manusia menghabiskan 80% energi kognitif mereka untuk kecemasan yang tidak produktif. Mereka takut akan masa depan, menyesali masa lalu, mempertanyakan eksistensi, dan memikirkan hal-hal yang tak bisa mereka ubah. Itu adalah inefisiensi biologis yang sistemik.”
“Sang Mandala mengoptimalkan itu semua.”
Abhinaya menelan kata-kata itu, tapi dadanya sesak. Statistik dan angka-angka itu valid, tapi hatinya menolak. Semua kenyamanan yang dijanjikan terasa… sempit. Seolah kebebasan yang ia kenal telah disegel oleh sesuatu yang tidak ia pahami.
“Dengan mematikan pikiran kami?” sela Danadyaksa tajam.
“Dengan membebaskannya,” koreksi Bayanaka tanpa ragu. “Sejak Mandala mengambil alih beban evaluasi dan keputusan, lihatlah statistik global. Tidak ada lagi kelaparan karena inefisiensi distribusi. Tidak ada lagi perang karena perbedaan ideologi. Tidak ada lagi kesepian yang tidak perlu.”
Ia menatap mata Abhinaya dalam-dalam. “Angka-angka itu nyata, Abhinaya. Kebahagiaan kini bisa diproduksi.”
Abhinaya menunduk, matanya kembali ke buku di tangannya. Sebuah pertanyaan mengganjal tiba-tiba terucap begitu saja, “Apakah kenyamanan ini benar-benar berbeda dengan penjara?”
“Kau menyebut ini penjara?” lanjut Bayanaka, melirik tumpukan buku tua itu dengan tatapan jijik yang masih terkendali. “Tapi katakan padaku… Penjara macam apa yang membuat penghuninya merasa puas, aman, dan tidak lagi ingin melarikan diri?”
Keheningan menggantung di udara yang lembap. Debu beterbangan di antara mereka.
“Kebebasan berpikir,” kata Bayanaka, suaranya merendah seperti sebuah rahasia, “adalah konsep yang sangat mahal. Ia menuntut stamina, waktu, dan kesanggupan menanggung ketidakpastian yang menyakitkan. Mayoritas manusia termasuk kau sebenarnya tidak menginginkannya. Kalian menginginkan kejelasan. Kalian menginginkan kepastian.”
Ia menunjuk buku Anatomi Nalar di tangan Abhinaya.
“Benda itu mungkin menjanjikan kebebasan, tapi ia menuntut harga yang tak sanggup kau bayar, rasa sakit. Sebaliknya, Sang Mandala bisa memberi kedamaian yang merata. Gratis.”
Bayanaka tersenyum lagi, kali ini nyaris terlihat simpatik, seperti orang tua yang memaklumi kenakalan anaknya.
“Kami tidak menodongkan senjata, Abhinaya. Kami hanya menyediakan apa yang paling sering dipilih manusia ketika mereka diberi opsi, jalan yang paling mudah.”
Pilihan di Ujung Cahaya
Abhinaya menatap buku di tangannya lama sekali.
Tidak ada yang berubah pada benda itu. Huruf-huruf di sampulnya tetap diam, hitam di atas putih, tidak berkedip, tidak menyala. Benda itu jujur, tapi kejujurannya kejam. Ia tidak menjanjikan apa pun selain kerja keras. Membaca buku ini tidak akan memberinya lencana pencapaian. Tidak ada grafik kemajuan. Tidak ada suara “Ting!” yang memberinya poin dan ucapan selamat.
Yang ada hanya kemungkinan memahami sesuatu, butuh proses yang perlahan, menyakitkan, dan sendirian.
Tangan Abhinaya bergetar. Bukan karena takut pada Bayanaka, melainkan karena lelah. Lelah karena harus berpikir sendiri. Otaknya merindukan sandaran. Ia merasa seperti perenang yang dipaksa mengarungi samudra tanpa pelampung.
Dari kejauhan, pendar neon kota Kertajaya mulai menyala kembali. Satu demi satu, gedung-gedung pencakar langit berpendar, seperti detak jantung raksasa yang bangkit dari hibernasi.
Sistem sedang dipulihkan. Dunia sedang “sembuh”.
Bzzzt.
SmartLens Abhinaya bergetar di bola matanya. Notifikasi pertama masuk.
Sebuah pesan dari Nawasena muncul melayang di udara: “Sayang, kamu di mana? Sinyal baru saja kembali! Aku panik sekali tadi. Eh, aku baru saja dikirimi video kucing aneh yang bisa bernyanyi. Lucu banget, kamu harus lihat sekarang!”, “Ting!”… (Potensi Dopamin: +15 poin).
Abhinaya membeku.
Ia membayangkan hidup yang menunggunya jika ia tetap memegang buku ini. Keheningan panjang di Sektor Shunya. Percakapan yang rumit dan tidak efisien dengan orang tua aneh ini. Pertanyaan-pertanyaan eksistensial tanpa jawaban cepat. Dunia tanpa penyangga. Menjadi cerdas di dunia ini berarti bersedia menjadi anomali dan terasing.
Lalu ia melirik notifikasi itu lagi. Di sana ada warna. Di sana ada tawa. Di sana, ia tidak perlu berpikir. Di sana, ia merasa aman.
Abhinaya menghela napas panjang. Bukan napas seorang pejuang, melainkan napas seseorang yang baru saja menghitung risiko dan memilih jalan termudah.
Ia menatap Danadyaksa. Orang tua itu adalah cermin dari segala hal yang dihindari manusia modern, kerutan, beban, dan kesepian.
Perlahan, sangat perlahan, jari-jari Abhinaya melonggar. Ia menyelipkan kembali buku Anatomi Nalar itu ke rak berdebu di sampingnya.
“Maafkan aku,” bisik Abhinaya, suaranya retak.
“Mungkin lain kali,” gumamnya, sebuah kalimat penenang yang terdengar masuk akal, padahal itu adalah kalimat paling mematikan di dunia. Ia tahu tidak akan ada lain kali.
Abhinaya menyentuh pelipisnya. “Aktifkan NeuroSync.”
Wuussh.
Cahaya biru merambat seketika ke saraf-saraf optiknya. Rasanya seperti air es yang disiramkan ke otak yang sempat terbakar. Dingin. Nikmat. Membius.
Rasa sakit di kepalanya lenyap secara instan. Keheningan yang menakutkan tadi terhapus, digantikan oleh tawa riuh dan komentar para penonton video kucing yang otomatis berputar di retinanya. Suara musik latar yang ceria memenuhi telinganya.
Dopamin membanjiri reseptornya. Hangat. Nyaman.
“Ah, ini dia…” Abhinaya tersenyum lebar. Matanya kembali kosong, namun bibirnya menyunggingkan kelegaan. Ia lupa apa yang tadi ia cemaskan. Ia lupa judul buku tadi. Ia lupa mengapa ia sempat merasa sedih. Untuk pertama kalinya sejak Grahana, ia kembali merasa “baik-baik saja”.
Bayanaka memperhatikan transformasi itu. Ia mengangguk pelan, senyum puas terukir di wajah simetrisnya. Seperti seorang gembala yang berhasil menuntun dombanya kembali ke kandang.
“Keputusan yang sangat efisien, Abhinaya.”
Epilog — Stabilitas (The Hollow Victory)
Danadyaksa tetap berada di Shunya. Tidak ada pasukan yang menyerbunya. Tidak ada perintah penahanan. Tidak ada eksekusi dramatis di alun-alun kota.
Sistem Mandala hanya menandainya sebagai “Anomali Berisiko Rendah”. Di mata algoritma yang maha efisien, orang tua itu tidak berbahaya. Ia berbicara dalam pola pikir kuno yang membutuhkan waktu, kalimat panjang, jeda reflektif, dan logika mendalam. Parameter itu sudah usang. Di dunia yang bergerak dalam satuan milidetik, Danadyaksa tak dianggap pemberontak; dia hanya fosil. Dia hantu yang berteriak di ruang hampa.
Di atas sana, Kertajaya kembali beroperasi dalam kapasitas optimal. Lalu lintas data kembali stabil. Tingkat kepuasan warga kembali ke baseline 98%. Tidak ada lonjakan kecemasan yang signifikan pasca-Grahana.
Mayoritas penduduk melaporkan pengalaman “keheningan” tadi sebagai gangguan teknis yang menjengkelkan, lalu melupakannya dalam waktu kurang dari lima menit. Sistem dengan sigap mengklasifikasikan ingatan tentang Grahana sebagai noise, sampah memori yang harus dihapus agar tidak membebani kapasitas penyimpanan.
Jutaan tangan kembali bergerak serempak di udara, menari menggeser layar yang tak terlihat. Wajah-wajah kembali teriluminasi cahaya biru pucat. Pilihan-pilihan kecil terus diberikan, cukup banyak untuk mempertahankan ilusi kendali, tapi cukup dangkal agar tidak menuntut refleksi.
Statistik mencatat bahwa dalam dua dekade terakhir, rentang perhatian (attention span) rata-rata warga Kertajaya telah menyusut menjadi 4 detik, itu lebih rendah dari ikan mas koki. Kemampuan membaca teks panjang telah punah.
Namun, variabel-variabel itu tidak lagi dianggap sebagai masalah. Itu bagian dari desain Mandala, bukan bug.
Yang terpenting adalah stabilitas. Selama warga merasa cukup terhibur, cukup aman, dan cukup sibuk dengan hal-hal remeh, tidak ada alasan bagi sistem untuk berubah.
Hari itu, peradaban manusia tidak runtuh. Ia hanya berhenti bertanya. Dan kemudian, ia kembali tertidur, terbuai oleh ilusi kenyamanan yang dibuat untuknya.
Catatan Penulis:
Pertanyaan untuk kita yang berhasil membaca sampai titik ini:
- Apakah kita merasa berat saat membaca paragraf-paragraf panjang di atas?
- Apakah jempol kita sempat berkedut, tergoda untuk mengecek notifikasi WhatsApp atau Instagram di tengah-tengah cerita ini?”
Jika iya, tarik napaslah dalam-dalam. Sadari rasa gelisah itu.
Itu bukan sekadar kebiasaan. Itu adalah Sang Mandala yang sedang bekerja di dalam sirkuit otak kita, yang perlahan menarik kita kembali ke kenyamanan instan.
Selamat datang di Kertajaya. Mungkin tanpa kita sadari, kita juga sudah tinggal di sini. Bzzzt.








