Menjahit Mimpi di Usia 30: Melawan Keraguan Saat Memulai dari Nol

 

Ada dua benda yang selalu menyambut saya ketika pulang ke rumah. Pertama, sepasang sepatu lapangan yang seringkali masih menyisakan tanah basah dari hutan tempat saya bekerja. Kedua, sebuah MIDI controller dan gitar yang diam menunggu di sudut kamar, menanti untuk disentuh.


Tahun ini, saya akan genap berusia 30 tahun.


Di usia ini, narasi yang sering kita dengar adalah tentang “pengerucutan”. Kita diajarkan bahwa kedewasaan adalah tentang memilih satu jalan dan menutup pintu lainnya. Jika kau seorang pegiat lingkungan di NGO, jadilah itu sepenuhnya. Fokus pada konservasi, pahami kebijakan iklim, dan lupakan mimpi-mimpi kanak-kanak yang tidak relevan dengan karier utamamu.


Selama bertahun-tahun, saya mengamini narasi itu. Saya mencintai pekerjaan saya. Karena bagi saya menjaga hutan bukan sekadar profesi, tapi dedikasi. Namun, ada bagian lain dari jiwa saya yang tidak bisa dipenuhi hanya dengan menanam pohon atau menulis laporan kajian. Bagian itu haus akan melodi, lirik, dan kreativitas tanpa batas.


Saya adalah seorang insinyur kehutanan yang diam-diam bermimpi menjadi musisi dan creatorpreneur.


Di Antara Logika Ekosistem dan Abstraknya Seni


Terkadang saya merasa seperti penipu (imposter) yang terjebak di antara dua dunia. Saat berada di hutan, pikiran saya melayang pada aransemen lagu. Saat berada di depan software musik, keraguan menyelinap: “Apakah pantas seorang profesional usia 30 tahun memulai dari nol di industri kreatif yang didominasi remaja?”


Ketakutan itu valid. Memulai side hustle di bidang yang bertolak belakang dengan latar belakang pendidikan itu menakutkan. Ada rasa takut dianggap tidak fokus. Ada rasa takut karya saya tidak didengar. Ada rasa takut bahwa “modal kreativitas” saya tidak cukup kuat untuk bersaing di creator economy yang begitu bising.


Saya sempat berpikir untuk mengubur mimpi musik ini. “Sudahlah,” pikir saya, “kamu sudah punya karier yang bagus di dunia kehutanan. Jangan serakah.”


Namun, hutan mengajarkan saya satu hal penting: Keberagaman adalah kunci ketahanan. Hutan yang sehat tidak hanya terdiri dari satu jenis pohon. Ia butuh semak, butuh satwa liar, butuh sungai, dan komponen-komponen yang lainnya.


Begitu pun manusia.


Saya menyadari bahwa menjadi musisi tidak berarti saya mengkhianati profesi saya sebagai penjaga hutan. Justru, musik adalah kanal penyeimbang. Kreativitas adalah oksigen yang menjaga api semangat saya tetap menyala, baik saat di panggung maupun saat di lapangan.


Mengubah Keraguan Menjadi Bahan Bakar


Hari ini, saya berdiri di ambang dekade baru dalam hidup saya dengan sebuah kesadaran. Bahwa menunggu “siap” adalah jebakan. Menunggu validasi orang lain adalah kesia-siaan.


Saya mungkin tidak memiliki latar belakang sekolah musik formal. Saya mungkin “terlambat” memulai dibanding mereka yang sudah berkarya sejak belasan tahun. Tapi saya memiliki perspektif yang mungkin mereka tidak punya. Saya punya cerita tentang sunyinya hutan rimba yang bisa saya terjemahkan ke dalam nada. Saya punya kedewasaan emosi yang ditempa oleh kerasnya pekerjaan.


Maka, saya merumuskan sebuah mantra sederhana untuk melawan suara sumbang di kepala saya:

“Saya tidak tahu apakah saya mampu, tetapi hari ini saya akan mulai memilih ‘Saya bisa’.” 

Kalimat ini bukan bentuk arogansi. Ini adalah bentuk kerendahan hati untuk mau belajar lagi.

  • Memilih “Saya bisa” berarti saya siap menjadi pemula lagi, meski di kantor saya mungkin seorang senior.
  • Memilih “Saya bisa” berarti saya berkomitmen bangun lebih pagi atau tidur lebih malam untuk mengedit konten, karena saya tahu mimpi ini berharga.
  • Memilih “Saya bisa” berarti saya menolak kotak-kotak label yang diciptakan masyarakat.


Undangan untuk Tidak Membatasi Diri


Tulisan ini bukan hanya catatan harian saya. Ini adalah surat terbuka untuk kamu.


Ya, kamu. Kamu yang menyimpan naskah novel di laci meja kerjamu. Kamu yang seorang akuntan tapi ingin menjadi travel vlogger. Kamu yang merasa “sudah terlalu tua” atau “terlalu sibuk” untuk mengejar apa yang benar-benar membuat matamu berbinar.


Jangan biarkan pekerjaan utamamu mendefinisikan seluruh eksistensimu. Kita hidup di era di mana kita bisa menjadi multidimensi. Kita bisa menjadi profesional yang serius di siang hari, dan seniman yang bebas di malam hari.


Ketidaktahuan akan masa depan itu wajar. Rasa takut itu manusiawi. Tapi jangan biarkan itu melumpuhkanmu.


Mulai saja dulu. Ambil gitar itu. Tulis halaman pertama itu. Rekam video pertamamu.


Saya tidak tahu ke mana perjalanan musik dan creatorpreneur ini akan membawa saya. Mungkin sukses besar, mungkin hanya didengar segelintir orang. Tapi setidaknya, saat saya tua nanti, saya tidak akan bertanya-tanya “bagaimana jika…”.


Karena hari ini, saya memilih untuk bisa. Dan saya harap, kamu pun demikian.


Baca juga :

#BelajarBerkaryaBerbagi 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.